Hukuman Fisik ke Anak?Apakah Perlu?

Waktu saya kecil, saya termasuk anak yang dianggap bandel. Tidak pernah mau tidur siang dan kerjanya keluyuran. Bahkan Ibu saya selalu mengunci pintu rumah ketika siang hari, dengan harapan, bahwa saya tidak akan keluar rumah. Tapi ya namanya anak-anak, pintu bukanlah halangan. Selalu ada jendela sebagai ganti pintu yang dikunci tadi. Dan setiap kali saya kabur di saat waktunya tidur siang, setiap itu pula saya akan mendapatkan hukuman dari ibu saya. Hukumannya apa?dipukul berkali-kali dengan menggunakan selang (kadang-kadang hanger atau kayu).

Bagi saya yang terlahir di tengah tahun 80-an, mendapat hukuman fisik dari orang tua adalah hal yang wajar. Hampir semua(atau mungkin malah semua) teman-teman saya pernah mendapatkan hukuman fisik dari ortunya, baik cuma dicubit, dijewer atau dipukul. Tapi dibandingkan dengan salah satu teman saya, hukuman pukulan selang oleh Ibu saya, termasuk hukuman yang ringan. Teman saya pernah dipukul oleh ayahnya dengan menggunakan balok kayu hingga pahanya memar berwarna kebiruan. Tetapi anehnya, walaupun saya (dan teman saya) hampir setiap hari dihukum, hal itu tidak membuat jera. Saya tetap melakukan kesalahan yang sama setiap harinya dan ibu saya akan melakukan hal yang sama setiap harinya. Kabur dari tidur siang, pulang, dipukul. Kabur dari tidur siang, pulang, dipukul.

Dalam penelitian yang dilakukan oleh Strauss (agak ilmiah nih), hukuman fisik yang dilakukan oleh ortu (menampar, mencubit, memukul) ternyata berdampak negatif terhadap kemampuan berpikir anak. Dalam studinya, anak yang mendapatkan hukuman fisik dari ortunya cenderung memiliki IQ yang lebih rendah. Akan tetapi terlepas dari penelitian itu, berdasarkan pengalaman saya pribadi, hukuman fisik tidak memberi efek jera, tidak membuat anak untuk berhenti melakukan kesalahan yang sama.

Ketika mempunyai anak, saya berjanji untuk tidak melakukan hukuman fisik. Memang butuh kesabaran ekstra dan kontrol diri. Akan tetapi, saya merasa hal ini sudah menajdi pilihan saya. Ada kejadian lucu ketika Langit berumur 6tahun, saya lupa kejadian pastinya saat itu, tapi yang saya ingat hari itu dia rewel banget dan saya sedang ketemuan dengan customer, saya pun refleks mencubit pahanya berharap dia diam. Akan tetapi, tiba-tiba Langit mencubit saya balik sambil berkata “Tadi itu sakit, Bunda”. Sontak saya kaget, sewaktu saya masih kecil jika saya dicubit oleh Ibu saya, saya tau bahwa saya harus diam. Saya pun segera meminta maaf pada Langit dan meminta dengan baik agar dia mau diam sejenak karena Bundanya sedang mengobrol dengan orang lain. Dan ternyata, dia bisa melakukannya dan “hukuman fisik” yang tadi saya lakukan ternyata sia-sia. Ketidaktahuan Langit antara korelasi mencubit dengan tindakan diam juga dikarenakan saya tidak pernah mengajarkan tentang hukuman fisik di rumah.

Jadi, menurut saya hukuman fisik itu tidak perlu. Banyak hal lain yang bisa kita lakukan untuk mengajarkan anak tentang baik atau tidak baiknya sesuatu, atau tentang salah dan benar, salah satunya dengan membuat kesepakatan, memberi tahu kesalahannya dan memberi tahu apa yang seharusnya dilakukan, dan hal pertama yang biasanya saya lakukan, adalah bertanya mengapa dia melakukan hal itu. Karena terkadang jawaban mereka sangat ajaib dan bisa sangat diluar ekspetasi kita.

SALAM, Tomoe Gakuen Untuk Anakku

Sewaktu SMA, saya sempat membaca buku berjudul “Totto-chan:gadis cilik di jendela”. Membaca Totto-chan membuat saya berpikir akan satu hal: betapa menyenangkannya bersekolah di Tomoe Gakuen (sekolah Totto-chan). Ruang kelasnya dari gerbong-gerbong kereta api, setiap anak bebas memilih ingin belajar apa, guru-guru yang sabar, anak-anak bebas bermain. Sungguh sekolah yang sangat diidamkan oleh setiap anak. Sejak saat itu, saya bermimpi jika suatu saat saya punya anak, saya ingin anak saya bersekolah di sekolah seperti itu.

Tahunpun berganti dan setahun yang lalu, tibalah waktunya ketika saya harus membuat mimpi saya menjadi nyata: mencari Tomoe Gakuen untuk anak saya. Waktu itu Langit sudah berusia 7 tahun, usia yang pas untuk masuk SD. Disinilah semuanya terasa serius. Beberapa tahun yang lalu, ketika langit akan masuk TK, saya sudah sempat googling sekolah yang sifatnya membebaskan anak. Dan waktu itu, saya membaca ulasan sebuah sekolah bernama:SALAM, Sanggar Anak Alam. Seketika saya jatuh cinta dengan sekolah ini, akan tetapi jarak dari rumah yang cukup jauh (sekitar 17km), akhirnya Langit tidak jadi disekolahkan di SALAM, dengan pertimbangan, dia masih terlalu kecil untuk menempuh jarak sejauh itu setiap harinya.

Akan tetapi di usianya yang ke-tujuh ini, saya merasa dia sudah cukup umur. Saya pun segera mendaftarkan Langit dan adiknya, Nara, ke SALAM. Ketika pertama kali ke SALAM, saya merasa seperti melihat Tomoe Gakuen. Tidak dalam bentuk gerbong-gerbong kereta api, tapi bangunan-bangunannya yang tampak menyatu dengan alam, sawah disekeliling sekolah, parit dan pohon-pohon.

Ketika mengobrol dengan salah satu fasilitator (alih-alih menggunakan kata Guru, SALAM memilih menggunakan kata fasilitator), beliau menjelaskan bahwa SALAM menyadari bahwa setiap anak berbeda, sehingga cara pendekatan, cara belajar dan bakat tentunya berbeda. Beliau juga bercerita bahwa jika bersekolah di SALAM, anak-anak akan mendapatkan snack dan makan siang dari sekolah yang bahannya berasal dari bahan lokal. Seketika saya teringat lagi dengan SESUATU DARI GUNUNG DAN SESUATU DARI LAUT, menu wajib makan siang Totto-chan dan teman-temannya. Saya pun segera mendaftarkan kedua anak saya, walaupun masih masuk daftar tunggu, Alhamdulillah beberapa minggu kemudian Langit dan Nara diterima di SALAM.

Dan disinilah awal perjalanan kami bersama SALAM.